Selasa, 01 Desember 2015

Teknik tukar menukar Pengalaman (Supervisi Pendidikan)

TEKNIK TUKAR MENUKAR PENGALAMAN

MAKALAH

Disusun Guna Memenuhi Tugas
Mata Kuliah : Supervisi Pendidikan
Dosen Pengampu : Dr. H. Mustaqim, M.pd




Disusun Oleh :
Didik Cahyono                       (1403036087)
Hadyan Luthfi Julianto           (1403036089)

FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI WALISONGO
 SEMARANG






I.          PENDAHULUAN
Bila kita berbicara mengenai pendidikan maka tak akan ada hentinya karena pendidikan itu adalah sesuatu yang urgen dan tak mengenal usia, apalagi dimasa sekarang orang berlomba-lomba dalam mengembangkan karirnya demi untuk kebahagiaan dimasa depan. Pendidikan adalah salah satu unsur yang paling penting dalam kehidupan manusia yang merupakan proses dalam pembentukan pribadi dan karakter manusia.
Dalam setiap pelaksanaan program pendidikan memerlukan adanya sebuah pengawasan atau supervisi dan supervisor bertanggungjawab dalam munculnya suatu yang efektif dan efisien dalam program tersebut. Supervisi menurut purwanto (1987) adalah aktifitas pembinaan yang direncanakan untuk mmembantu para guru  dan pegawai sekolah dalam melakukan pekerjaan secara efektif. Berbagai macam teknik dapat digunakan oleh supervisor dalam membantu guru untuk meningkatkan situasi dalam pembelajaran, baik secara kelompok maupun perorangan atau pun dengan secara langsung bertatap muka dan cara taklangsung bertatapmuka atau melalui media komunikasi.
Setelah mempelajari beberapa tentang teknik supervisi individual, observasi kelas, kunjungan kelas, percakapan priadi dan teknik menilai diri sendiri dan lain sebagainya. Oleh karna itu kami pemakalah akan menjelaskan tentang teknik tukar menukar pengalaman (sharing of experience). 



II.   RUMUSAN MASALAH
A.    Apa pengertian dari Teknik tukar menukar pengalaman ?
B.    Bagaimana langkah-langkah teknik tukar menukar pengalaman ?
C.    Apa sajakah problematika yang harus di pecahkan di dalam teknik tukar           menukar pengalaman ?



III.             PEMBAHASAN
A.    Pengertian Tukar Menukar Pengalaman
Penataran merupakan sesuatu yang membosankan. Dikatakan membosenkan karena guru-guru menganggap bahan yang diberikan sudah pernah dimiliki, atau cara penyajian juga kurang menarik, karna tidak bersumber pada kebutuhan profesi mereka. Oleh karena itu suatu teknik perjumpaan yang disebut “ sharing of experience “ adalah cara yang begitu bijaksana. Didalam teknik ini kita berasumsi bahwa guru-guru adalah orang yang sudah berpengalaman. Melalui perjumpaan diadakan tukar menukar pengalaman, saling memberi dan menerima, saling belajar satu dengan yang lain. namun demikian, prosedur sharing harus dipersiapkan secara teratur agar sebuah tujuan yang diinginkan dapat dicapai.[1]
Asumsi yang melatar belakangi teknik ini ialah bahwa guru-guru, pada umumnya adalah orang yang berpengalaman dalam bidangnya masing-masing, sehingga memungkinkan diadakan tukar menukar pengalaman diantara mereka, saling memberi dan menerima dan saling, belajar diantara mereka untuk memperoleh pengalaman-pengalaman, baru yang bermanfaat dalam tugas mereka. Tukar-menukar pengalaman semacam ini lebih bermanfaat jika dibanding dengan penataran yang sering merupakan sesuatu pemborosan, baik waktu, tenaga, biaya dan pikiran para pesertanya.[2]
 Menurut pendapat lain mengatakan Tukar menukar pengalaman “Sharing of Experince” suatu teknik perjumpaan dimana guru menyampaikan pengalaman masing-masing dalam mengajar terhadap topik-topik yang sudah diajarkan, saling memberi dan menerima tanggapan dan saling belajar satu dengan yang lain.[3]

B.      Langkah-langkah dalam sharing of experience
Langkah-langkah sharing of experience antara lain:
1.        Tentukan sebuah tujuan yang akan dicapai.
2.        Tentukan pokok masalah yang akan dibahas dalam bentuk problem.
3.       Berilah kesempatan pada setiap peserta untuk menyumbangkan pendapat mereka.
4.        Rumuskan kesimpulan sementara dan lemparkan problem baru.
Dalam bentuk perjumpaan seperti ini harus berprinsif bahwa setiap orang mampu berpartisipasi aktif dan setiap pengalaman perlu dihargai.
Suatu contoh tukar menukar pengalaman tentang fungsi guru dalam membibing murid. Dibawah ini dapat dikemukakan sejumlah problem yang dapat dibicarakan bersama.
a.         Tujuannya
Agar seorang guru dapat belajar dari pengalaman temannya dalam membibing murid.
b.        Pokok-pokok masalah:
1.  Pengalaman apakah yang diperoleh setelah memperdalam pengetauhan tentang murid-murid baik secara pribadi maupun kelompok.
2.        Contoh-contoh penghargaan terhadap perbedaan-perbedaan individual.
3.   Pengalaman yang positif dalam hal memelihara pencatatan murid secara teratur dan kontinu.
4.    Bagaimana guru dapat berhubungan baik dengan orang tua murid dalam membina murid-muridnya.
5.        Bagaimana caranya supaya informasi rahasia tentang keadaan murid-murid setelah di bimbing dengan baik.
c.         Pokok-pokok diatas dibahas melalui tukar menukar pengalaman guru-guru.[4]


C.     Pemecahan Problematika dalam teknik tukar menukar pengalaman
a.       Membantu Guru yang belum berpengalaman
Dalam dunia pendidikan banyak sebagian guru yang belum berpengalaman dalam mengemban tugasnya. Adapun ciri-ciri guru yang belum berpengalaman, antara lain, adalah bersikap pemalu, canggung dalam pergaulan dengan teman sejawat, dan tidak merasa aman dalam mengemban tugasnya.
Oleh karena itu, seorang supervisor hendaknya memberikan bantuan kepada guru-guru tersebut. Bantuan itu dapat berupa:[5]
1.   Memecahkan masalah yang dihadapi, baik dalam mengajar maupun perencanaan pengajaran.
2.    Memperkenalkan siswa-siswa dan dapat mengidentifikasi diri dengan siswa.
3.        Mengantarkan guru baru kedalam suasana pergaulan antar guru.
Teknik yang dapat dilakukan oleh seorang supervisor ialah dengan melakukan program orientasi percakapan pribadi atau mengikutsertakan guru dalam panitia kerja atau kelompok diskusi. Bimbingan dan pengarahan yang tepat akan sangat membantu dalam pertumbuhan guru baru. Seperti yang dilakukan oleh guru TK sleman yang mendapat pelatihan internet dari STMIK AMIKOM. Lebih dari 3 jam, peserta pelatihan dari sejumlah taman kanak-kanak di sleman ini mendapat pendapingan dari dosen ahli STMIK AMIKOM. Pelatihan ini diberikan karena guru taman kanak-kanak memiliki peran strategis untuk menularkan kecanggihan teknologi di dunia maya pada anak didiknya.
b.      Membantu Guru Yang Tidak Efektif
Salah satu masalah yang sering muncul disekolah adalah masalah guru yang sering datang terlambat atau tidak hadir pada jam pelajaran yang ditentukan. Pada umumnya sebagian guru memiliki usaha sampingan di luar jam pengajarannya. Usaha sampingan ini di lakukan untuk menambah penghasilan keluarga, karena gaji guru memang tidak terlalu besar.
Untuk mengatasi masalah tersebut, perlu adanya kesediaan dan kerelaan dari rekan guru lain untuk mengisi kekosongan itu. Sistem piket menjadi salah satu jalan alternatif untuk menanggulanginya. Seorang supervisor hendaknya dapat memberikan masukan agar tercipta suasana sekolah yang menyenangkan sehingga semua guru merasa saling membantu, tidak mempermasalahkan waktu-waktu yang kosong.
c.   Membantu Guru Kurang Rajin
Menurut Sahertian ada beberapa macam penyebab yang mempengaruhi guru menjadi kurang rajin, antara lain sebagai berikut.
1.         Karena sikap kepala sekolah. Misalnya, tidak ada penghargaan        dari kapala sekolah terhadap pekerjaan yang dilakukan oleh   guru, tidak ada kepercayaan dari pimpinan sekolah, dan tidak           mendapat perlakuan yang layak dalam hal promosi jabatan.
2.         Karena sikap guru. Misalnya, banyak persoalan pribadi atau             masalah keluarga yang memberikan beban berat. Ciri-cirinya         antara lain sebagai berikut.
a. Tidak tertarik terhadap hal-hal yang baru dalam bidang pengembangan pendidikan.
b. Tidak pernah membuat catatan dalam persiapan melakukan pelajaran.
c.       Tidak pernah mengoreksi pekerjaan siswa.
d.       Menghindari bekerja sama dengan orang lain.
e.        Cepat-cepat pulang setelah pekerjaan.[6]
          Bantuan yang dapat diberikan untuk menolong guru-guru yang kurang rajin adalah dengan memberikan tanggung jawab kepada guru-guru, memberikan kesempatan kepada guru-guru untuk menghayati motivasi dan stimulasi dengan menggunakan teknik-teknik dinamika kelompok, dan mengikutsertakan guru-guru tersebutdalam panitia pekerjaan.
d.       Membantu Guru Superior
Guru yang superior adalah guru-guru yang sangat berhasil dalam pelajarannya karena menggunakan cara-cara mengajar yang sesuai dengan kepribadiannya. Guru-guru yang telah berperpengalaman atau superior ini hendaknya perlu memiliki sikap rendah hati. Sikap tersebut dapat diwujudkan dengan membantu sesame rekan guru yang lain dalam menggunakan metode-metode pembelajaran yang sesuai. Keahlian dan keprofesionalannya harus dapat memberikan dampak yang positif bagi semua pihak, yaitu bagi anak didik dan sesame rekan guru.
Dengan begitu, rekan guru yang lain dapat belajar dan berlatih kepada guru yang superior agar proses belajar mengajar semakin berkualitas dan efektif. Kunjungan supervisior kepada guru-guru superior akan sengat bernilai sebab mereka akan merasa diperhatikan, dihargai, dan dapat menghilangkan prasangka bahwa supervisior hanya mengunjungi guru-guru yang kurang mampu. Kunjungan supervisior dapat memberikan dorongan bagi guru-guru untuk lebih maju lagi.[7]    
e.    Membantu guru dengan kelemahaan pribadi
Dalam dunia pendidikan, kelemahan guru menjadi suatu maslah yang perlu mendapat perhatian serius. Kelemahan-kelemahan guru ini dapat dilihat dari beberapa hal berikut:
1.      Suara pada saat ia berkata-kata, misalanya menelan kata-kata, sewaktu berbicara kurang jelas, terlalu cepat berbicara, suka mengeluh, dan marah-marah.
2.      Gangguan dalam gaya lahiriah dan inti pribadi, misalnya berpakaian terlalu menyolok dan bersolek secara berlebihan, atau sebaliknya pekaian kurang rapi, ekspresi muka tidak berubah, dan sebagainya.
3.      Gangguan watak dan pribadi, misalnya cepat tersinggung, terlalu peka, tidak percaya, selalu salah pengertian, ketakutan yang berlebihan, dan kurang tenang emosional.
Dengan demkikian supervisior dan rekan-rekan guru lainnya harus mengenal pribadi dari seluruh guru, agar dapat memberikan diagnosis dan pembinaan serta arahan pada pribadi guru-guru tersebut.[8]   

IV.     KESIMPULAN
Tukar menukar pengalaman “Sharing of Experince” suatu teknik perjumpaan dimana guru menyampaikan pengalaman masing-masing dalam mengajar memperoleh pengalaman-pengalaman, baru yang bermanfaat dalam tugas mereka. terhadap topik-topik yang sudah diajarkan, saling memberi dan menerima tan tanggapan dan saling belajar satu dengan yang lain.
           Melatar belakangi teknik ini ialah bahwa guru-guru, pada umumnya adalah orang yang berpengalaman dalam bidangnya masing-masing, sehingga memungkinkan diadakan tukar menukar pengalaman diantara mereka, saling memberi dan menerima dan saling, belajar diantara mereka untuk

Langkah-langkah sharing of experience antara lain:
1.      Tentukan sebuah tujuan yang akan dicapai.
2.      Tentukan pokok masalah yang akan dibahas dalam bentuk problem.
3.      Berilah kesempatan pada setiap peserta untuk menyumbangkan pendapat mereka.
4.      Rumuskan kesimpulan sementara dan lemparkan problem baru.
Pemecahan Problematika dalam teknik tukar menukar pengalaman
a.  Membantu Guru yang belum berpengalaman
b.  Membantu Guru Yang Tidak Efektif
c.  Membantu Guru Kurang Rajin
d.  Membantu Guru Superior
e.  Membantu guru dengan kelemahaan pribadi


V.        PENUTUP
Demikian makalah yang berjudul Teknik tukar-menukar pengalaman telah selesai kami buat, semoga dapat memberikan manfaat kepada kita semua, dan dapat memberikan suatu pemahaman kepada pemakalah secara khususnya.
Sekian dari kami apabila ada kesalahan atau kekurangan dalam penulisan makalah ini atau dalam pemahamannya, dimohon kritik dan saran yang membangun sangat kami butuhkan agar dapat membuat makalah selanjutnya dengan baik. Dari kami mohon maaf yang sebesar-besarnya dan atas perhatian pembaca kami mengucapkan terima kasih.





[1] Piet A. Sahertian, Konsep Dasar dan teknik supervisi pendidikan, (Jakarta: rineka cipta), hlm. 103
[2] http://janganasaltahu.blogspot.co.id/2012/10/teknik-dan-proses-supervisi-pendidikan.html. (Diakses tanggal 24 November 2015)
[3] Jasmani Asf, Saiful Mustofa,”Supervisi Pendidikan”, (Jogjakarta: Arruz Media), hlm. 81-82
[4] Piet A. Sahertian, Konsep Dasar dan teknik supervisi pendidikan, hlm. 103-104
[5] Maryono, Dasar-dasar dan Teknik supervisi pendidikan, (Jogjakarta: Arruz Media), hlm. 101-102
[6] Maryono, Dasar-dasar dan Teknik supervisi pendidikan, hlm. 108
[7] Maryono, Dasar-dasar dan Teknik supervisi pendidikan, hlm. 104-105
[8] Maryono, Dasar-dasar dan Teknik supervisi pendidikan, hlm. 105-106








Daftar Pustaka

Jasmani Asf, Saiful Mustofa,”Supervisi Pendidikan”, (Yogyakarta: Arruz Media),
            Maryono. Dasar-dasar dan Teknik-teknik menjadi supervisor pendidikan. Yogyakarta:   Ar-Ruzz Media. 2011
Sahertian, Piet A. “Konsep Dasar & Teknik Supervisi Pendidikan”. Jakarta: Rineka           Cipta. 2008
http://janganasaltahu.blogspot.co.id/2012/10/teknik-dan-proses-supervisi-   pendidikan.html(Diakses tanggal 24 znovember 2015)

1 komentar: